Postingan

Pengarsipan

Aku tak menyimpanmu dalam sebuah lagu.  Kepada sebuah rangkaian nada yang sama sekali tak bisa mendeskripsikan sedikit pun tentang keindahanmu.  Aku tak menyimpanmu dalam sebuah wewangian. Kepada semerbak aroma yang sementara, kepada sebuah kapasitas botol kaca yang bisa dihitung dengan angka.  Aku tak menyimpanmu dalam sebuah sajak.  Kau tak hidup dalam ungkapan majas, tak dilebih-lebihkan bagai hiperbola, dan tak dapat dibandingkan dengan metafora. Aku menyimpanmu dalam keraguan.  Dalam setiap titik-titik kecemasan, dalam relung-relung ketakutan, dan dalam jurang-jurang yang menjaring kesadaran bahwa aku hanya bisa bersanding dengan ketidakpantasan.  Aku menyimpanmu dalam keegoisan.  Kepada lapar yang tak pernah kuberi makan, kepada tulus yang perlahan mulai hangus, kepada jiwa yang ingin dimiliki namun tak ada kedagingan untuk diberi Aku menyimpanmu dalam kebencian.  Kepada rasa pasrah dan amarah yang selalu ku teriakkan dalam tundukan terakhir...

Pesan Ku

Jangan anggap pesan ku sebagai kewajiban.   Biarkan, bahkan jika perlu diamkan.   Aku tak pernah peduli cepat atau lamban kau menyampaikan balasan.   Biarkan detik demi detik itu tumbuh menjadi sebuah rasa penasaran.   Dan jika kau ingin tau seperti apa bentuknya. Biar ku coba deskripsikan. Tubuhnya tumbuh lebih tinggi daripada egonya, aromanya lebih harum daripada namanya, Akarnya mengakar lebih dalam daripada makna hidupnya, dan jika kau mencoba untuk menghitung kelopak bunganya, bahkan sepanjang usiamu tidak akan cukup untuk menampungnya.  Sekali lagi pesanku bersifat tanpa pamrih, tak mengharapkan balasan.  Tenang. Sapaan ku tak seperti pesan atasan mu yg menagih janji deadline.  Atau, seperti tuntutan kawan mu yg meminta seratusnya dikembalikan.  Aku ingin pesan ku seperti sebuah rencana dari sekumpulan kawan yg mengajak mu liburan.  Atau, seperti persetujuan dari dosen atas segala apa hal yg telah engkau kerjakan.  Menggembirakan d...

Kontradiktif

Kurasa manusia tidak akan pernah bisa untuk mencerna kontradiktif serumit ini:   Awal yang tak berani untuk dimulai, Akhir yang takkan pernah selesai, Kenangan yang tak dapat diingat, Pertemuan singkat yang berakhir panjang,  Perasaan sederhana yang rumit dijelaskan,  Cukup yang selalu saja kurang, Kekosongan yang terasa penuh, Sunyi yang paling berisik, Lelah yang tak membuat lelap, Dan kesepian yang sangat ramai. Dan dari semua itu, aku menyederhanakannya dengan sebutan "patah hati". 

Rehabilitasi

Ledakan dopamin datang secara tiba-tiba.   Dosis yg ku dapatkan sejumlah sederhana,  Menguat, mengikat, memaksa menjadi tak hingga. Kesadaran melemah, menjadi sebuah bencana. Terperangkap di antara dimensi ilusi dan realita.  Hormon kortisol melonjak, stress tak lagi jinak,  Tubuh mulai bergejolak, sistem syaraf mangkrak.  Adiksi dan candu membuat detak jantung terpacu. Agresif, posesif, impulsif tak bekerja di kognitif.  Upper, downer, halusinogen bercampur menyatu. Diri tak bersekutu, gigi berdetak menggerutu.  Segala upaya dicoba, setiap detik merapal do'a Kurasa aku tak berkuasa selain memohon ke Maha Berhenti? Aku tak punya banyak opsi.  Memangnya di mana bisa ku cari tempat rehabilitasi untuk narkotika seperti ini? Ingatan terakhir ku sebelum benar-benar sembuh, adalah pesan singkat untuk mencicipi barang itu, "Hi, berapa harga yang harus dibayar hanya untuk mendengarkan semenit suara mu?"

Aku

Aku adalah batas musim Yang berada di ambang batas pergantian antara kemarau di hatimu atau penghujan di mataku. Aku juga adalah awan mendung Yang tidak mau mengganggu aktivitas mu tetapi ingin melihat pelangi terlukis di matamu Lalu aku juga senja Yang bersiap untuk meninggalkan siang tetapi takut malam datang Kemudian aku adalah dosa Yang sangat amat menyakitkan tetapi menyenangkan bila dilakukan Bisa jadi aku juga adalah bias Bias diambang batas kesalahan dan kebenaran Bisa jadi juga aku adalah abu-abu Yang tidak tahu harus ke putih atau hitamkah aku berlabuh Kemudian aku adalah sajak amarah Yang kebetulan dikumandangan oleh pribadi yang dilanda cinta Dan tetapi aku adalah aku Seseorang yang membenci sekaligus mencintaimu. -Muhammad Rafli Irsyaad- Jakarta, Maret 2019

ELEGI

Setiap lorong sepi ada saja elegi Ada beberapa yang terukir anomali Ada beberapa hanya pergi dan tak kembali Setiap elegi punya ceritanya sendiri Ada yang kembali kepada sang maha tinggi Ada yang kembali ke pelukan lain hati Elegi merapalkan dirinya dengan kesedihan Kepada cinta yang datang lalu hilang Atau kepada cinta yang datang hanya sebagai pelarian Sama dengan kita saat bertemu Terpapar elegi yang ku prediksi soal waktu Tapi juga tersirat abadi tak lekang bersamamu

DALANG

Biarkan aku menjadi dalang mu wayang ku Sinta Nanti ku kenalkan Rama seorang pemuda tampan nan bijaksana Tunggu, kau bilang tak mau? Kau mau bebas? Seperti burung yang terbang di langit lepas? Akan aku laksanakan permintaan mu Lalu selain itu Apa impian mu? Apa cita-cita mu? Apa keinginan lain mu? Apa harapan mu? Sebentar, aku ingin menanyakan sesuatu Bagaimana bisa sekarang kau menjadi dalang ku?