Pengarsipan
Aku tak menyimpanmu dalam sebuah lagu. Kepada sebuah rangkaian nada yang sama sekali tak bisa mendeskripsikan sedikit pun tentang keindahanmu. Aku tak menyimpanmu dalam sebuah wewangian. Kepada semerbak aroma yang sementara, kepada sebuah kapasitas botol kaca yang bisa dihitung dengan angka. Aku tak menyimpanmu dalam sebuah sajak. Kau tak hidup dalam ungkapan majas, tak dilebih-lebihkan bagai hiperbola, dan tak dapat dibandingkan dengan metafora. Aku menyimpanmu dalam keraguan. Dalam setiap titik-titik kecemasan, dalam relung-relung ketakutan, dan dalam jurang-jurang yang menjaring kesadaran bahwa aku hanya bisa bersanding dengan ketidakpantasan. Aku menyimpanmu dalam keegoisan. Kepada lapar yang tak pernah kuberi makan, kepada tulus yang perlahan mulai hangus, kepada jiwa yang ingin dimiliki namun tak ada kedagingan untuk diberi Aku menyimpanmu dalam kebencian. Kepada rasa pasrah dan amarah yang selalu ku teriakkan dalam tundukan terakhir...