Pengarsipan

Aku tak menyimpanmu dalam sebuah lagu. 

Kepada sebuah rangkaian nada
yang sama sekali tak bisa mendeskripsikan
sedikit pun tentang keindahanmu. 


Aku tak menyimpanmu dalam sebuah wewangian.
Kepada semerbak aroma yang sementara,
kepada sebuah kapasitas botol kaca
yang bisa dihitung dengan angka. 


Aku tak menyimpanmu dalam sebuah sajak. 
Kau tak hidup dalam ungkapan majas,
tak dilebih-lebihkan bagai hiperbola,
dan tak dapat dibandingkan dengan metafora.


Aku menyimpanmu dalam keraguan. 
Dalam setiap titik-titik kecemasan,
dalam relung-relung ketakutan,
dan dalam jurang-jurang yang menjaring kesadaran
bahwa aku hanya bisa bersanding dengan ketidakpantasan. 


Aku menyimpanmu dalam keegoisan. 
Kepada lapar yang tak pernah kuberi makan,
kepada tulus yang perlahan mulai hangus,
kepada jiwa yang ingin dimiliki namun
tak ada kedagingan untuk diberi


Aku menyimpanmu dalam kebencian. 

Kepada rasa pasrah dan amarah yang
selalu ku teriakkan dalam tundukan terakhir kepala di tanah.
Kepada rasa serakah dan meminta-minta
dalam setiap acungan tangan yang sedang menengadah.
Kepada hentakan dan lemparan untaian manik-manik
yang kuselipkan di jemari setiap malam. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pesan Ku

Aku